Surprise dari Muridku!
Surprise dari Muridku!
Oleh: Adi Septian, S.Pd.I.
Hari itu, 18 September 2024, adalah hari ulang tahunku yang ke-38. Tak banyak yang tahu soal ini—hanya keluarga, beberapa teman dekat, dan mungkin beberapa kolega. Sebagai seorang guru Bimbingan Belajar Al-Qur'an (BBQ) di SMPIT Darul Abidin, aku lebih fokus pada tugasku: membantu murid-muridku agar dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta menambah hafalan mereka agar lebih berkuantitas dan berkualitas.
Di setiap awal tahun ajaran baru, seperti biasa saat pertama kali bertatap muka dengan murid- murid, aku selalu berusaha menciptakan suasana belajar yang nyaman. Aku mengenalkan diriku dengan hangat dan mengajak mereka untuk bercerita. Menurutku, hubungan yang baik antara guru dan murid adalah kunci agar materi yang kusampaikan terserap dengan baik.
Pada tahun ajaran 2024-2025 ini, jadwal mengajarku adalah setiap hari Senin hingga Kamis. Dimulai pukul 8 hingga 9.20 pagi aku mengajar kelas 9, dilanjutkan pukul 11 hingga 12 siang untuk kelas 8, dan sesi terakhir jam 1 hingga 2 siang untuk kelas 7. Biasanya, kami memulai pelajaran dengan doa bersama, diikuti dengan muroja'ah atau pengulangan hafalan. Setelahnya, aku mentalaqqikan atau mendiktekan beberapa ayat hafalan baru yang nantinya akan mereka setorkan kepadaku. Setelah sesi hafalan, kami berlanjut ke materi tajwid, gharib, dan tilawah.
Tapi hari itu ada yang berbeda.
Ketika tiba waktunya mengajar kelas 8 pada pukul 11 siang, aku berjalan menuju aula Badar seperti biasa dan memulai pelajaran tanpa firasat apa pun yang mengisyaratkan adanya kejadian istimewa. Kami mengawali sesi dengan membaca doa, dan tak lama setelahnya, Maisha, salah satu murid, mengangkat tangannya. Ia meminta izin untuk keluar sebentar karena katanya ada barang yang tertinggal. Aku pun mengizinkannya. Selang beberapa menit, aku melanjutkan pembelajaran dengan sesi muroja'ah. Namun, tiba-tiba pintu aula terbuka, dan Maisha kembali dengan membawa dua buah kue bolu kecil yang dihias sederhana dengan tulisan "HBD Pak Adi." Ternyata, seluruh murid kelas 8 telah berdiri dengan senyum lebar, bersiap memberikan kejutan.
Serempak mereka berteriak, “Selamat ulang tahun, Pak Adi!” Suara mereka memenuhi ruangan
aula yang luas, membuatnya terasa hangat dan hidup.
Aku terdiam sejenak, tak menyangka mereka telah merencanakan kejutan seperti ini. Maisha maju lagi, kali ini dengan membawa tumpukan kertas kecil yang dipenuhi tulisan ucapan dan doa dari teman-temannya. Masing-masing murid telah menuliskan harapan dan doa-doa yang baik untukku.
“Pak, ini ucapan dan doa-doa dari kami semua untuk Bapak,” kata Maisha dengan senyum lebar.
Aku menerima kertas-kertas itu dengan hati yang hangat. Setiap tulisan terasa begitu tulus dan menyentuh—ada yang mendoakan agar aku sehat selalu, ada pula yang berharap agar aku terus membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Ada juga yang menambahkan pesan lucu, seperti, “Semoga Pak Adi muda terus ya, Pak! Hehehe.” Aku tertawa kecil membaca itu, sementara para murid tersenyum malu-malu.
Ucapan-ucapan sederhana itu begitu dalam artinya. Aku bisa merasakan ketulusan mereka, dan seketika aku sadar bahwa hubungan antara guru dan murid jauh lebih bermakna daripada sekadar mengajarkan materi pelajaran.
Kue yang mereka bawa pun sederhana, namun penuh makna. Aku menatap mereka dengan senyuman, “Terima kasih banyak, ya. Kalian benar-benar membuat Bapak bahagia hari ini,” kataku dengan tulus. Aku pun memotong sepotong kecil kue dan membagikannya agar kami dapat menikmatinya bersama. Suasana aula yang awalnya terasa biasa berubah menjadi begitu hangat dan penuh kebersamaan.
Belakangan, aku baru tahu bahwa mereka telah menyiapkan kejutan ini sejak hari Senin, tanggal 16 September. Rasa haru dan bangga memenuhi hatiku. Bukan karena kue atau ucapan itu, tetapi karena perhatian dan usaha yang mereka berikan untuk membuat hariku istimewa.
Di akhir perayaan sederhana itu, aku berterima kasih kepada mereka semua. “Terima kasih banyak. Bapak nggak akan lupa kebaikan kalian ini. Semoga kalian juga selalu dilimpahkan keberkahan dan sukses dalam belajar Al-Qur’an dan di setiap langkah hidup kalian,” ucapku sambil tersenyum.
Hari itu, aku melanjutkan sesi mengajar seperti biasa, namun dengan perasaan yang lebih hangat dan penuh makna. Mereka memberikanku pelajaran berharga tentang arti sebuah perhatian kecil yang tulus, betapa setiap kebaikan yang kita berikan, sekecil apa pun itu, dapat membekas di hati orang lain.
Aku pulang dengan hati yang penuh rasa syukur, membawa kenangan indah yang takkan pernah kulupakan. Sebuah kejutan sederhana dari murid-muridku mengingatkanku bahwa menjadi seorang guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang menciptakan hubungan yang penuh kasih dan saling menginspirasi.

Comments
Post a Comment