Pendidik Yang Terdidik Untuk Pendidikan

 



Darbi: Pendidik yang Terdidik

Oleh: Amelia Khairina, S.Si

Darbi sekolahku

Lampu kereta ujung peron menerangi sudut stasiun yang dahulu disebut stasiun terlupakan. Jalur kereta komuter Jabodetabek yang melalui Stasiun Cilebut semakin populer. Stasiun kecil yang dulu hanya menjadi tempat persinggahan kini menjadi salah satu stasiun penting bagi para pekerja yang pulang-pergi antara Jakarta dan Bogor. Seiring waktu, pembangunan di sekitar stasiun mulai berkembang pesat. Rumah-rumah sederhana mulai digantikan dengan perumahan modern, kebun jambu merah yang terkenal di daerah Cilebut menjadi sasaran kontraktor untuk membangun rumah minimalis dan banyak perantau memilih tinggal di Cilebut karena akses kereta yang mudah.

Rumah ukuran minimalis dengan kebun buatan ayah sendiri menjadi lokasi pulang ternyaman untuk Saya setelah mengajar.  Rumah sederhana yang dibeli ayah untuk kami sekeluarga selama tinggal disini. Hangat dan nyaman itulah yang kami rasakan selama di Cilebut, Kota kecil dengan penduduknya yang ramah. Bahasa sunda pun tidak banyak dikuasai tetangga sekitar, lebih banyak bahasa betawi yang dikeluarkan dari mulut para tetangga dan ibu rumah tangga saat merayu abang tukang sayur menurunkan harga bawang dan cabai.

Beralih ke profesiku hari ini, menjadi guru sebenarnya buka profesi idamanku saat awal lulus kuliah biologi. Kalau kata orang kuliah biologi itu paling kerja di lab atau main tikus dan kodok. Namun, setelah banyak orang berkata seperti itu keinginan untuk jadi guru tiba-tiba muncul saat guru SMA di sekolahku dahulu menelpon, “Amel kamu sibuka ga? Ibu mau lahiran 1 bulan lagi, kamu bisa gantikan ibu di kelas IPA 1?,, waduh kataku, apa bisa baru lulus disuruh ngajar SMA. Tapi aku memberanikan diri untuk mengajar di sana, SMA yang dulu tempatku menuntut ilmu, sekarang menjadi tempat memberikan ilmu kepada adik kelas yang menurut aku jaraknya jauh sekali usianya.

Tumpukan buku fisika dan biologi setebal 20 cm suka berada di hadapanku. “Amel rumah kamu di Bogor kan? Nuh jauh di sana kamu bersedia ngajar kesini loh.” Ucap salah satu guru favoritku saat sekolah dulu, Bu Marina Namanya. Aku pun menjawab “ iya bu, sembari Latihan ngajar hehe”. Setelah 6 bulan mengajar aku mendapat gaji pertamaku yang masih menggunakan amplop agak lecek dan saat itu juga aku ucap perpisahan dengan sekolah dan kepala sekolah.

Setelah beberapa  hari, aku melihat lowongan mengajar di Bogor. Aku pun mencoba mengajar di sana, tapi tidak lama aku langsung resign karena manajemen yang menurutku agak kurang baik. Lalu, aku berpikir kenapa tidak mencoba ke Depok ya. Sejenak terdiam dan tiba-tiba terpikir nama kota satu ini, dari Bogor tidak terlalu jauh. Aku langsung membuat CV dan mengumpulkan berkas-berkas penting yang dibutuhkan, tidak tahu kenapa aku begitu bersemangat ingin segera ke sana. Tak selang beberapa lama mungkin 3 hari setelah kirim CV aku di telepon oleh pihak sekolah di Depok ini, “ Bu Amel besok segera hadir ke sini yaa” ucap Bapak di telepon tadi. Saya merasa takut dan khawatir kalau tidak diterima. Lalu saya berucap, “Baik pak, terima kasih”. Esok hari saat masuk melewati Beji lalu saya ditampilkan dengan pemandangan kagum sekolah yang besar dan semua yang menyapa saya dengan senyuman dan hangat, layak orang lama yang sudah sering bertemu. Sekolah itu adalah SMPIT Darul Abidin, sekolah unggulan yang berbasis Islami serta memiliki lingkungan yang asri dan bersih.

Syukur alhamdulillah ucap mamaku, “akhirnya keterima di tempat bagus ya amel” kata mama sambil membetulkan kacamata bacanya. “ iya ma sekolahnya bagus banget” ucapku bangga. Aku mau terus berkontribusi penuh di sekolah ini, meski banyak rintangan dan tantangan menunggu. Semua cerita dari mulai gadis sampai menikah sepertinya semua ada di darbi, begitulah nama singkatan sekolah ini.

Hari pertama mengajar di darbi pun di mulai, wajah anak SMP mulai terlintas jelas setiap hari di pikiranku. Sangatlah beda kondisi kelas saat di sekolah sebelumnya dan hari ini, terutama tingkah anak SMP yang masih ragu untuk bertanya kepadaku selaku guru baru. Statusku awalnya tidak hanya guru IPA namun lebih dari itu yaitu sebagai laboran dan guru seni rupa, ko bisa? Semua hal bisa di darbi. Aku ingat saat Pak Hari bertanya tentang minat dan hobiku yang katanya unik, “ibu bisa gambar dan Lukis? Tapi matematika dan IPA juga oke ya?” ucapnya sambil melihat hasil coretan psikotest.  “Alhamdulillah kalau lukis hobi saya pak otodidak aja” jawabku. Setelah hampir 5 tahun berada disini, di darbi sekolah tercinta, aku berkesempatan mengikuti kegiatan CGP kalau kata guru-guru seperti itu singkatannya. Calon guru penggerak yang belum pernah aku dengar nama programnya, aku pun selama menjadi guru selalu terbiasa belajar sendiri apapun itu, karena saya belum pernah menyelami dunia perkuliahan pendidikan. Semisal buat RPP atau rancangan pembelajaran saja saya ngulik sendiri. Awalnya sulit dan tidak paham konsepnya, lama kelamaan terbiasa dengan banyak istilah Pendidikan.

Guru penggerak memang baru kudengar di media sosial dan youtube. Tujuan program ini diantaranya guru menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid. Keikutsertaan dalam program ini mendapat dukungan dari sekolah dan teman guru. Awalnya khawatir tidak bisa menyelesaikan, tapi alhamdulillah Allah mudahkan dan aku menyelesaikan program ini selama 6 bulan bersama teman guru kota Depok. Setelah kegiatan ini selesai dan tak menyangka dapat nilai tinggi untuk kerja keras selama 6 bulan, tidak hanya itu aku pun mendapat banyak pembelajarn berharga dan teman guru yang menginspirasi.

Setelah menjadi guru penggerak Angkatan 8, aku meneruskan perjalanan belajar dengan mengikuti pelatihan dan workshop melukis online dan offline. Sebetulnya kegiatan penunjang ini bukan memberatkanku namun menjadi wadah healing kalau kata anak sekarang ya. Melalui kegiatan melukis dan menggambar digital, aku jadi punya basic keterampilan baru menjadi seorang guru. Bahkan slide presentasiku kadang aku buat sendiri, seru kan.  Mungkin itulah secuplikan kisah singkatku. Semoga menginspirasi. Guru hebat lahir bukan karena mahir tapi karena terampil membagi waktu. Sekian terima kasih 

 

 

Comments