Bersama-sama Tapi Tetap Berbeda-Beda
Bersama-sama Tapi Tetap Berbeda-Beda
Oleh: Robiyana, S.Pd.
Aku berbeda maka aku ada. Begitulah kiranya kalimat tersebut ditulis oleh René Descartes. Redaksi Dalam bahasa Latinnya adalah: cogito ergo sum, yang berarti aku berpikir maka aku ada. Jadi memang, saya telah menggubah salah satu kalimat termasyhur itu menjadi versi saya. Hal serupa juga saya lakukan saat menulis judul cerita ini. Saya mencoba menuliskan makna Bhinneka Tunggal Ika dalam versi saya sendiri. Pertimbangannya satu: setiap dari kita terlahir berbeda, dan karena itulah kita wajib berbangga karena tidak sama dengan orang lain.
Hal itulah yang paling saya tekankan saat mengajar IPS di kelas 8. ‘Beda’ memang menjadi kata primadona di semester pertama, khususnya dalam materi pengenalan keragaman budaya di Indonesia. Pada suatu kesempatan saya memulai kelas dengan sebuah pertanyaan. "Apa sih yang membuat kita berbeda?" Seisi kelas terdiam. Saya pun melanjutkan, "Perbedaan adalah simbol kebanggaan. Mari kita lihat contoh dari kehidupan sehari-hari."
Saya menceritakan pengalaman saya saat berkunjung ke sebuah desa budaya di Tasik. Di sana, saya melihat bagaimana masyarakat dapat menjaga tradisi masyarakat dengan baik secara turun-menurun. Alih-alih merasa asing dengan berbagai perkembangan, saya justru dengan jelas mendengar kebanggaan “kami senang karena kami berbeda”. Cerita tersebut pun saya beri pemaknaan. Saya tegaskan “Kita berbeda karena kita membawa kebanggaan, yang terpola secara unik dari berbagai pengalaman. Jadi beda itu salah satu tanda kita punya kebanggaan”
Seiring waktu, materi yang harusnya dipelajari dalam beberapa jam pelajaran tersebut, sekarang menjadi kebiasaan yang sering saya tekankan saat memulai pembelajaran. Dasar dari kebiasaan tersebut ialah masih banyaknya siswa yang kurang percaya diri saat mengungkapkan apa yang mereka pikirkan. Dalam beberapa kesempatan, saya amati penyebabnya ada pada kebiasaan sehari-hari, yang bersumber dari kurang biasanya mereka dengan konsep ‘perbedaan’ serta kenyataan bahwa setiap orang berbeda. Sehingga, ada beban yang bisa saya amati saat mereka disebut ‘beda’. Dalam hal ini, perbedaan sama dengan dikucilkan. Terlepas dari upaya penghindaran, ada juga fenomena pengakuan dan penguatan yang berlebih yang sering saya lihat dalam keseharian siswa. Mereka cenderung sering kali bekerja keras dan merepotkan diri sendiri hanya untuk merasa paling beda. Sehingga dalam pelaksanaannya, pembelajaran IPS selalu saya mulai dengan sebuah aturan: jangan buang waktu kita untuk dua hal: ingin sama dengan orang lain; dan ingin beda dari yang lain, karena kita semua sudah berbeda.
Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita bisa mensyukuri apa yang Allah berikan, dengan cara menghargai apa yang telah diciptakan-Nya. Dalam hal ini, saya tekankan juga kepada siswa bahwa: perbedaan bukan hanya soal simbol kebanggaan, tapi juga simbol dari kekuasaan Tuhan. Tuhan memerintahkan kita untuk berkenalan; melebur satu sama lain dalam perbedaan. Perlakukan perbedaan dengan semestinya: hargai bukan hindari; menyesuaikan bukan mengiyakan atau meninggalkan.

Comments
Post a Comment