Etnomatika : Belajar dari Kota Tua, Matematika Juga Punya Cerita





 Etnomatika : Belajar dari Kota Tua, Matematika Juga Punya Cerita

Oleh: Siti Dahniar, S.Pd.


Detik-detik jam dinding di sudut kamar, mengajak saya untuk kembali memikirkan, “Perjalanan apa yang akan saya lakukan berikutnya pada pertemuan akhir di ekstrakurikuler Matematika?”. Setidaknya, setiap akhir Oktober atau akhir Maret menjadi rutinitas pikiran saya merancang perjalanan yang bermakna dan menyenangkan dengan konsep Matematika di dalamnya. Sejak Darbi Math Club menjadi sebuah kegiatan ekstrakurikuler di tahun 2022 hingga saat ini tahun 2024, sudah 5 kali perjalanan yang kami lakukan. Kemana saja? Yang pertama, kami lakukan perjalan ke Indonesia Science Centre. Kami melakukan kunjungan ke museum dengan belajar ilmu Matematika dan Sains disana. Kedua, kami melakukan perjalanan ke Monas dengan keseruan mencoba berbagai transportasi. Kemudian perjalanan ketiga dan keempat, kami menjelajahi Kota Tua dengan konsep Etnomatika dalam perjalanannya. Yang terakhir, kami melakukan perjalanan ke Museum Layang-Layang baru-baru ini di bulan Oktober 2024. Saya ingin berbagi lebih mendalam perjalanan kami ketika menjelajahi Kota Tua, sebuah tempat yang penuh dengan sejarah. Bagian terpentingnya adalah bagaimana saya merencanakan sebuah perjalanan tersebut bukan hanya sebuah perjalanan untuk siswa ekskul, namun bermakna dengan konsep Matematika yang dipelajari siswa.

Satu bulan sebelum melakukan perjalanan eksibisi Darbi Math Club, saya membuat sebuah daftar tempat wisata yang dapat dikunjungi siswa dengan menjelajahi internet setiap malam seusai pulang sekolah. Setelah menemukan beberapa tempat, saya mengerucutkan kembali dengan melihat transportasi umum yang dapat dijangkau dan aman untuk seluruh siswa. Harga tiket juga menjadi pertimbangan saya sebagai pengelola ekskul, sehingga dapat sesuai dengan anggaran yang dibuat. Sampai akhirnya, untuk perjalanan eksibisi saat itu terpilih ke Kota Tua. Saya mempelajari berbagai jurnal Matematika yang terkait tentang Kota Tua. Saya temukan sebuah istilah bernama Etnomatika yang menjelaskan bahwa Matematika dapat dipelajari melalui kebudayaan di Indonesia. Saya sangat tertarik dengan istilah tersebut, dan menjadikan judul kegiatan perjalanan Darbi Math Club dengan “Etnomatika Kota Tua”. Tentunya dalam sebuah perjalanan ke Kota Tua ini, akan saya kaitkan dengan perjalanan numerasi yang mengasah matematika siswa setelah 9 kali pertemuan di kelas saat ekskul. “Bu Mega, sepertinya kita akan eksibisi ke Kota Tua nih, mengangkat perjalanan etnomatika, bagaimana menurut kamu?”. Rekan guru yang menjadi teman diskusi Matematika bernama Bu Mega inilah yang selalu saya mintakan pendapatnya terkait perjalanan yang akan kami lakukan di ekskul Darbi Math Club. “Oke bu seru itu dan tranportasinya juga aman kayanya, gass bu…”, kalimat andalan Bu Mega ketika menyetujui rencana yang telah saya buat. Satu pekan sebelum memulai perjalanan, saya mencari ide yang akan dijadikan misi. Misi ini harus diselesaikan setiap siswa yang tergabung dalam kelompok yang telah ditentukan. Terdapat 4 misi yang saya buat sebagai tantangan mereka dalam perjalanan dengan kelompoknya. Misi pertama berkaitan dengan materi jarak, kecepatan dan waktu. Kemudian misi kedua berkaitan dengan materi perbandingan. Misi ketiga, siswa diajak untuk literasi tentang harga emas dan diberikan sebuah masalah yang terkait dengan harga emas serta jual beli emas dengan mengaitkan materi aritemtika sosial. Misi keempat sebagai Final Mission, siswa menyelesaikan perjalanan dengan mengaitkan konsep etnomatika yang ada di Museum Fatahillah.

Perjalanan akan segera dimulai, hari yang ditunggu seluruh siswa untuk menjadi perjalanan seru tak sabar kami lewati bersama. Informasi keberangkatan serta teknis perjalanan eksibisi ke Kota Tua ini, selalu diinformasikan ke orang tua sebagai bentuk persiapan kami memastikan bahwa perjalanan yang kami lakukan jelas. Perjalanan ini didampingi oleh 3 guru, yaitu saya, Bu Asma dan Bu Ninis. Sayangnya, Bu Mega tidak dapat ikut dalam perjalanan ke Kota Tua ini karena ada kegiatan lain. Seluruh siswa dan guru pendamping harus hadir jam 7 pagi di depan loket  Stasiun Depok Baru. Dalam perjalanan saya naik ojek online jam 06.45, ada 1 pemberitahuan dari Radit bahwa ia telah sampai di depan Roti Maryam Stasiun Depok. Memang salah satu siswa ini, beberapa kali eksibisi selalu hadir paling pertama dan selalu menggunakan pakaian uniknya. Kali ini, ia menggunakan jaket biru nyentrik dengan kacamata hitam yang digunakannya. Tepat jam 7 pagi, saya sampai di stasiun Depok Baru dan sudah ada beberapa siswa berkumpul bersama Bu Asma. Hari itu, seluruh siswa terlihat antusias sekali dengan diantar orang tua mereka. Setelah semua berkumpul, kami menuju peron arah Jakarta. Menjadi sebuah hal yang wajib diabadikan adalah ketika kami harus foto bersama terlebih dahulu di area tunggu peron kereta Jakarta. “Ayo…Foto dlu gais..”, seruan saya. Tak lama setelah berfoto, kereta datang. Kondisi kereta saat itu lumayan penuh sehingga kami memutuskan membagi masuk ke 3 pintu berbeda yang masing-masing akan dibimbing oleh saya, Bu Asma dan Bu Ninis. Misi pertama yang telah saya kirim di WAG, langsung dibuka oleh siswa dan dipelajari bersama kelompok.

First Mission :

Hai Math Lovers, kalian sudah sampai di Stasiun Depok Baru nih..

  1. Siapkan stopwatchmu ya, nyalakan saat kalian sudah naik kereta, hitung waktu perjalanan kalian sampai kereta berhenti di Stasiun Jakarta Kota. Catat waktu tempuhnya.

  2. Sebagai informasi : Jarak Stasiun Depok Baru ke Stasiun Jakarta Kota adalah 30.941 m. Berapa m/s kecepatan dari kereta tujuan Depok-Jakarta Kota?

  3. Tuliskan jawaban kalian pada link padlet yg diberikan, serta foto selfie kelompok di Stasiun Jakarta Kota ya..

Saat menyelesaikan misi pertama, mereka menyiapkan stopwatch dan mulai menghitung soal yang diberikan. Sudah ada yang selesai menjawab, namun mereka harus menunggu jawaban itu dikirim bersama dengan foto selfie mereka saat di Stasiun Jakarta Kota. Sambil menikmati perjalanan, mereka melihat ke arah luar jendela sambil bercakap-cakap dan mengobrol hal seru. Terdengar sayup-sayup Nala dan Nio yang bercakap-cakap dengan Bahasa Inggris membicarakan hal-hal random sambil tertawa sumringah. Perjalanan hampir 1 jam, kami sudah sampai di Stasiun Jakarta Kota. Kami turun dengan hati-hati melalui anak tangga penghubung kereta dan peron. Kami berkumpul di area pintu keluar. Saya berikan waktu 10 menit siswa menyelesaikan misi pertama dan selfie dengan kelompok masing-masing. “Ayo, ayo.. cepetan kita sudah selesai jawab ni, tinggal selfie.. oke 1, 2, 3…”,ajak Arkan ke teman kelompoknya. Saya cek ke padlet misi, kelompok Arkan, Nabil, Rafie dan Nio yang pertama menyelesaikan misi. Jawaban dari misi pertama berbeda-beda setiap kelompoknya. Hal itu dipengaruhi perbedaan saat memulai dan memberhentikan stopwatch, namun saya memberikan rentang jawaban yang akan dianggap tepat. Ya, jawaban misi pertama adalah kisaran 8,1 m/s – 8,6 m/s. Alhamdulillah semua kelompok menjawab dengan benar.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Kunjungan pertama kami, adalah ke Museum Bahari. Disana sudah menunggu pemandu wisata yang sudah berkomunikasi dengan saya yaitu Kak Asep. Menuju ke Museum Bahari, kami menggunakan transportasi umum angkot. Saya menginstruksikan, setiap tim ada yang memimpin untuk melakukan pengumpulan dana transportasi. Ini adalah salah satu kegiatan numerasi konteksktual bagaimana mereka dapat menghitung berapa iuran setiap orang untuk naik angkot secara rombongan. Serunya naik angkot bersama teman. Ternyata ada juga yang baru pertama kali naik angkot, baginya ini adalah pengalaman pertama yang sangat menyenangkan karena bisa naik angkot pertama kali bersama teman dan guru-guru pendamping ekskul Darbi Math Club. Kurang lebih 10 menit perjalanan kami naik angkot ke Museum Bahari, di ujung Museum sudah ada Kak Asep yang menyapa kami. Kak Asep memperkenalkan diri dan memberikan arahan kami akan melakukan perjalanan kemana saja. Kunjungan pertama kami, akan diajak Kak Asep ke dalam Museum Bahari dan menara pandang. Misi kedua telah saya kirim ke WAG Darbi Math Club, mereka segera mengunduh filenya dan mulai berdiskusi.

Second Mission :

Yeay! Kalian sudah menyelesaikan misi pertama. next level yuk.. kalian sudah sampai di Museum Bahari

sekarang..

  1. Temukan sebuah jangkar kapal pada Museum Bahari, ukurlah ketinggian jangkar dengan menggunakan jengkal tangan (22 cm/jengkal). Catat hasilnya.

  2. Fotolah jangkar dengan kameramu hingga semua bagian jangkar masuk. Kemudian ukur ketinggian jangkar pada hasil fotomu dengan penggaris.

  3. Berapa perbandingan antara jangkar sebenarnya dengan foto jangkar yang ada pada kamera hp kamu?

  4. Tuliskan jawabanmu di padlet. Unggah juga foto selfie kelompok kalian di depan jangkar.

Kak Asep memandu dan menjelaskan apa saja yang ada di Museum Bahari. Mulai dari kapal-kapal laut yang digunakan nenek moyang kita, hingga ke rempah-rempah yang jadi benda terpenting saat Portugis datang ke Indonesia. Seluruh siswa sibuk memotret sambil mendengarkan penjelasan Kak Asep tentang bagaimana sejarah kelautan Indonesia. Tidak lupa, berfoto bersama di salah satu tempat dengan latar belakang kapal laut yang megah menjadi andalan kami untuk kenangan indah ini. Waktu menunjukan pukul 10.00, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum BI. Sebelum ke Museum BI, 10 menit saya berikan waktu agar siswa berusaha mencari jangkar pilihan mereka untuk menuntaskan misi kedua. Jawaban di misi kedua ini, akan berbeda-beda karena jangkar yang dipilih sesuai kesepakatan kelompok masing-masing. Guru pendamping membantu mengecek satu per satu ketepatan jawabannya. Misi kedua ini, yang pertama kali mengumpulkan dengan cepat dan tepat adalah kelompok Azzam, Radit, Nala, Ayesha dan Dzakwan. Mereka memilih jangkar di awal pintu masuk dengan hasil perbandingan antara jangkar asli dengan hasil foto mereka adalah 1 : 19,…. Dibulatkan menjadi 1:20. Good Job!

Saat kami ingin melanjutkan perjalanan berikutnya, ternyata hujan sangat deras sehingga kami tidak bisa berjalan kaki ke Museum BI. Akhirnya, kami naik mobil wisata Kota Tua berwarna putih yang terparkir di depan Museum Bahari. Sesampainya di museum BI, kami masih harus menunggu antrian masuk. Kurang lebih 20 menit kami menunggu, akhirnya kami bisa masuk ke dalam. Kak Asep memandu kami ke ruangan-ruangan yang penuh dengan informasi sejarah BI. Kami melihat ada mesin pencetak uang pertama yang masih manual, kemudian terdapat ruangan dengan kumpulan jenis mata uang dari berbagai negara, hingga kami sampai ke ruangan yang sangat berkilau. Ya, ini adalah ruangan penuh dengan duplikat emas batangan. Di ruangan inilah saya memberikan kembali misi ke-3 untuk mengajak siswa berliterasi harga emas per hari ini dengan satu soal yang perlu diselesaikan dengan tepat.






Third Mission :

Huffftt... lelah ya setelah jalan kaki, eits.. kita sudah sampai nih di Museum BI yang megah sekali..

  1. “Ada bank ada uang. Harum cuan bikin melayang, halusinasi jadi sultan.” Temukan yuk spot tumpukan gunung emas yang bikin kamu harap-harap cemas.

  2. Literasi emas yuk! Googling terkait harga emas antam ukuran 1 kg. Baca artikel tersebut. Tautkan link nya pada padlet.

  3. Harga emas per 23 juni 2023 adalah 1.003.054/gr. Perkiraan kenaikan emas/th 5-20%. Apabila kamu melakukan investasi emas 10 gram  di tahun 2023 dengan harga 1.003.054/gr dan kenaikan harga emas 10% di tahun 2024, maka berapa nilai investasi emas kamu? Tulis jawaban pada padlet, kemudian unggah juga foto selfie mu dengan tumpukan emas yg membuat cemas.

Misi ke-3 ini masuk ke level yang lebih tinggi lagi, karena mereka harus berperan menjadi investor emas. Siapakah yang tercepat menyelesaikan misi ini? Lagi dan lagi adalah kelompok Azzam, Radit, Nala, Ayesha dan Dzakwan. Wow keren! Ini jawaban kelompok Azzam : Harga 10 gr emas 2023: Rp10.030.540. Keuntungan investasi 10 gr emas : Rp 1.003.054. Harga 10 gr emas di 2024: Rp11.033.594. Terlihat kelompok lain juga tetap bersemangat menyelesaikan misinya. Tercepat kedua adalah kelompok Rafie, Hanief, Fadlan, Yosa dan Dzaky. Selanjutnya adalah kelompok Kalila, Nayla, Maisha, Ayesya dan Almira. Sayangnya, 2 kelompok lainnya belum berhasil menuntaskan misi ketiga ini. Selesai dari Museum BI, kami sholat dzuhur terlebih dahulu di masjid BI. Kami berjalan menyusuri samping museum hingga ke belakang dengan masih disertai rintikan hujan yang belum selesai menjatuhkan sisa airnya. Meluruskan kaki di selasar masjid adalah obat dari kelelahan kami yang dari pagi menyusuri tempat-tempat yang membuat kami selalu tertarik. Kami sholat dzuhur berjamaah dengan suasana tenang dan hembusan angin AC yang semakin menambah kekhusyukan sholat kami. Setiap perjalanan, jangan sampai meninggalkan sholat dan Darbi Math Club selalu melakukan itu di setiap perjalanan kami agar selalu tenang.

Perjalanan belum selesai, kami diajak Kembali oleh Kak Asep menuju Museum Fatahillah sebagai rangkaian terakhir kegiatan kami. Kak Asep mengajak kami, pertama ke area penjara bawah tanah. Disana Kak Asep menjelaskan dengan sangat lancar kisah tahanan yang masuk ke dalam penjara bawah tanah itu. Kami masuk dengan menunduk, ruangannya pengap dan gelap. Di dalamnya ada peluru-peluru berat dengan rantai yang menjuntai, konon katanya itu dipasangkan pada tangan dan kaki tahanan agar tidak melarikan diri, cerita Kak Asep. Ada yang bertahan mendengar cerita kak Asep di dalam penjara bawah tanah itu, ada yang menunggu diluar karena tidak tahan dengan pengap dan gelapnya. Selanjutnya, kami menuju ke dalam area Museum Fatahillah. Kami melihat banyak benda bersejarah seperti prasasti, gerabah, alat masak kuno, lemari kaca bersejarah dan banyak hal lainnya. Di area ini, saya mengirimkan kembali misi ke-4 yang berkaitan dengan Etnomatika.

Final Mission :

Finally gais.. sampai juga ya di Museum Fatahillah yang penuh sejarah. Yuk masuk..

  1. Perhatikan gedung Museum Fatahillah tampak depan, ambil foto bangunan tersebut yang mencirikan unsur Matematika pada bangunan.

  2. Masuklah ke dalam museum, ambil foto benda bersejarah yang memiliki unsur matematika. Jangan lupa selfie juga dengan kelompok mu.

  3. Jelaskan etnomatika/unsur budaya dan matematika dari bangunan serta benda bersejarah yang kamu ambil. Tulis penjelasannya di padlet. Jangan lupa unggah selfie kelompok kalian juga ya di tempat favorit.

Tantangan misi terakhir ini, menjadi penentu siapakah kelompok terbaik yang berhasil mendominasi jawaban tercepat dan tepat. Notifikasi padlet saya sudah bunyi, artinya sudah ada kelompok yang upload jawaban. Kelompok ini memilih benda meja bundar yang ada di area tengah museum. Mereka memilih ini karena ada unsur bangun datar dan geometri berupa lingkaran. Selain mereka menjelaskan benda tersebut dengan deskripsi yang berkaitan dengan etnomatika, mereka juga memberikan penjelasan perhitungan serta luas dan kelilingnya. Bagaimana mengukurnya ya? Karena sebenarnya benda bersejarah itu tidak boleh disentuh. Akhirnya mereka menjelaskan pengukuran menggunakan tali yang diletakkan melayang di atas meja dengan 2 orang memegang ujung tali tersebut. Dengan metode perkiraan diameter dengan titik pusatnya, kemudian mereka merentangkan tali tersebut. Setelah direntangkan, mereka ukur tali tersebut dengan penggaris. Hasil yang dijabarkan mungkin ada sedikit yang kurang tepat karena pengukuran tidak boleh menyentuh meja langsung, namun karena usaha maksimal yang diberikan kelompok ini, maka guru pendamping bersepakat untuk menilai hasilnya berdasarkan data taksiran mereka. Siapakah kelompok tercepat di misi ke-4 ini? Kelompok ini lagi dan lagi menjadi kelompok tercepat dalam menghitung dan menyelesaikan misi, yaitu kelompok Azzam, Nala, Radit, Ayesha dan Dzakwan. Jika ada 10 jempol yang ada di jari tangan ibu, maka akan ibu berikan 10 jempol itu untuk kalian. Apresiasi sangat perlu dilakukan oleh guru untuk senantiasa memicu semangat siswa dalam melakukan sesuatu.

Inilah akhir kisah perjalanan eksibisi Darbi Math Ckub kami dengan tema Etnomatika Kota Tua. Kami harus kembali ke rumah dengan perjalanan kereta menuju Depok. Namun, ternyata tidak semulus itu perjalanan pulang kami, kami salah naik kereta. Kereta yang kami naiki tujuannya bukan ke arah Bogor melainkan ke arah Tanjung Priok. Kami baru melewati 2 stasiun sampai di Stasiun Ancol, kemudian Bu Ninis yang pertama kali menyadari bahwa kami salah naik kereta. Akhirnya kami turun di stasiun Ancol dan kembali ke arah Jakarta Kota untuk menuju Depok. Ada saja cerita yang menjadi kenangan kami hari itu. Cerita kami, bukan sekedar cerita biasa. Cerita kami, adalah perjalanan nyata bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak bisa lepas dari Matematika. Sampai jumpa di perjalanan kami berikutnya.


Comments