Kekuatan dari Ketrampilan Sosial Emosional

 


Kekuatan dari Ketrampilan Sosial Emosional

Oleh: Pris Indriasih, S.Pd.


    "Keterampilan sosial emosional adalah dasar dari keberhasilan hidup; itu bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tapi bagaimana kita memahami, berempati, dan berinteraksi dengan orang lain." – Anonim. 

Pembelajaran Sosial Emosional sangat penting untuk membangun ketrampilan sosial emosional peserta didik, guru dan tenaga kependidikan. Di sekolah kami, banyak kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan sosial emosional. Dengan pendekatan ini diharapkan warga sekolah dapat mengelola emosi dan perilaku, memiliki empati dan menunjukan kepedulian terhadap orang lain, memecahkan masalah secara efektif, membuat keputusan yang bertanggung jawab dan memelihara hubungan yang sehat dengan orang lain.

Setiap tahun di sekolah saya diadakan kegiatan Independence Sport Day dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia.  Dalam Independence Sport Day terdapat kegiatan lomba untuk semua siswa dari level 7 sampai level 9. Dari level 7 – 9 dibentuk menjadi 4 tim, Tim A, B, C dan D. Tim A, terdiri dari kelas 7A, 8A dan 9A , begitu seterusnya sampai Tim D.

Tim saya adalah tim B atau Tim Arief Rahman Hakim (ARH). Saya sebagai wali kelas 7B berkoordinasi dengan walas 8B dan 9B. Disini saya belajar untuk meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi dengan tim, menangani konflik, dan bekerjasama secara efektif serta berkolaborasi melakukan diskusi pembagian tugas kerja dan peserta lomba antara level 7, 8 dan 9 dengan rekan sejawat saya.

Saya dan rekan sejawat menjadi teladan bagi peserta didik dengan mengartikulasikan  diskusi yg fair antara walas 7, 8 dan 9, dan bagaimana kami menangani konflik pembagian tugas dan peserta lomba level 7, 8 dan 9 dari tim kami, serta menekankan bahwa semua peserta dapat mengenali kekuatan masing-masing dan mengikuti lomba sesuai kekuatannya karena lomba bertujuan untuk kemenangan tim bukan untuk kepentingan atau keinginan individu saja, sehingga peserta didik dapat menerima keputusan dengan kepuasan yang tinggi.

Di kegiatan ini peserta didik dilatih untuk memutuskan dan menuliskan nama mereka di daftar lomba yang sesuai (Pengambilan Keputusan yang Bertanggung jawab)  dengan kekuatan yang dimiliki mereka (Kesadaran Diri). Peserta didik juga dilatih untuk tetap kalem dan sabar dalam mendiskusikan daftar lomba yang akan diikuti sehingga tidak ada yang berebut atau merasa tidak puas (Manajemen Diri). Peserta didik turut membantu dan mengajak diskusi temannya yang belum mendaftar dan bingung untuk memilih lomba yang akan diikuti (Kesadaran Sosial). Peserta didik bersama-sama saling support dan bahu membahu demi kekompakan tim (Ketrampilan Sosial).

Ada siswa laki-laki yang datang kepada saya dan berkata,“Ibu, saya ikut lomba congklak, tapi saya tidak bisa main congklak, permainan yang lain juga saya tidak bisa.” Saya bertanya, ”Kamu belum pernah main congklak, Alyan?,”

“Belum pernah,” jawabnya. “Oh, mungkin kamu bisa belajar dulu, kamu pasti bisa, kamu kan jago matematika, pasti kamu bisa strateginya,” saya membesarkan hatinya.  “Oh iya bu, saya nanti mau belajar dari internet.”jawab Alyan antusias.

Saat hari H tiba, Tim kami berhasil menjuarai 6 lomba dari 12 lomba yang diadakan. Kami sangat senang.  Dan Alyan, siswa yang tidak bisa bermain congklak, meraih juara pertama lomba permainan congklak Putra. Saya sangat bangga dengan keberhasilannya, dari yang tidak bisa sama sekali bermain congklak bisa mendapatkan juara pertama. Kami merayakan kemenangan kami bersama di kelas. 

Saya menyadari siswa memerlukan penguatan, terkadang dari hati ke hati, dari gurunya utk dapat membuatnya lebih percaya diri dan termotivasi. Guru sebaiknya dapat memahami, berempati, dan berinteraksi dengan baik kepada siswa. Saya berharap nilai-nilai baik dalam pembelajaran sosial emosional dapat diterapkan oleh seluruh warga sekolah dalam mencapai keberhasilan dan kebaikan bersama.


Comments