MENCINTAI BAHASA MELALUI APRESIASI SASTRA
MENCINTAI BAHASA MELALUI APRESIASI SASTRA
Oleh: Nurfadilah Widiyarti
“Bu, Bahasa Indonesia ada praktik lagi ngga?” tanya Bagus dengan ekspresi wajah khas orang sebrang.
“Seperti biasa, setiap akhir pembelajaran ada praktik. Naah di materi berikutnya kalian akan membuat video iklan kreatif” jawab saya setengah berpikir, jawaban apa yang bisa memotivasi murid yang kerap kali cepat berubah emosi.
Wajah bagus berbinar, begitupun dengan temannya. Saya kembali makin tertegun. Kenapa tiba-tiba mereka bertanya? Tumben sekali. Ada apa d
engan praktik tadi? Mendengan materi praktik berikutnya, mereka pun langsung mengatur rencana. Ternyata, apresiasi puisi yang saya anggap sangat menantang, bisa menjadi sangat menyenangkan bagi si anak-anak kinestetik.
Tahun ini adalah tahun spesial saya mengajar. Sebelas tahun di SMPIT Darul Abidin, baru kali ini saya ikut naik kelas dengan murid di tahun lalu, dan baru kali ini pula mengajar di level 8. Sedikit banyak saya kenal dengan karakter dan kemampuan mereka. Karenanya, dalam menyusun materi di semester awal ini, saya dahulukan materi puisi. Saya ingin menyambung materi kelas 7 yaitu puisi lama, dengan materi kelas 8 yang menunjukkan perkembangan sastra Indonesia menjadi puisi baru.
Pada materi ini, tujuan akhirnya adalah apresiasi puisi, dimana siswa dapat mengapresiasi puisi melalui beragam cara, yaitu membaca puisi, musikalisasi puisi, rampak puisi, dan dramatisasi puisi. Beragamnya minat dan kemampuan siswa, saya ingin menerapkan pembelajaran diferensiasi. Bagi siswa yang suka mengaktulisasi diri sendiri, maka ia bisa memilih membaca puisi, bagi siswa yang suka di bidang vokal dan musik bisa memilih musikalisasi puisi, bagi yang butuh kelompok dalam membaca puisi, bisa rampak puisi, dan apalagi, bagi siswa yang senang bermain peran dapat terfasilitasi di dramatisasi puisi. Satu materi, beragam cara dapat dilakukan.
Dalam mengapresiasi puisi, tentunya ada beberapa tahap yang harus siswa lakukan. Maka langkah pertama adalah saya bawa siswa ke rooftop. Biarkan mereka bebas melihat alam sekitar, menghirup udara, dan merasakan hawanya. Dari situlah mereka dapat menggali imajinasi dari puisi yang tersaji. Satu puisi dibedah secara berkelompok. Lalu dibacakan dan dipresentasi kepada kelompok lain secara bergantian. Dari puisi itulah mareka kembali berdiskusi ingin diapresiasi kembali dengan cara apa? Mereka pun dapat mengubah puisi bila mendapatkan puisi yang lebih sesuai. Dalam satu kelas, ternyata sangat beragam. Termasuk Bagus dan kawan-kawannya, si anak-anak kinestetik. Mereka memilih dramatisasi puisi. Selama 2 minggu saya beri waktu mereka untuk mendalami puisi dan berlatih, al hasil…waaaww di luar ekspektasi. Bagus dan kawan-kawan yang biasanya belajar semaunya, mengerjakan soal apa adanya, tapi kali ini berperan layaknya pemain drama yang sudah mempersiapakan konsep beberapa bulan sebelumnya. Masya Allah..
Bagi anak-anak kinestetik, mereka butuh ruang terbuka untuk berekspresi, butuh diberi kebebasan yang tentunya tetap dalam pantauan guru. Dengan ini, mereka justru dapat lebih kreatif dan terlihat potensinya.
-min%20(1)_11zon.jpg)
Comments
Post a Comment