Sebuah Coretan dalam Deskripsi
Sebuah Coretan dalam Deskripsi
Oleh: Dasep Supiadin, S.Pd.
"Jika ditanya, 'Bagaimana kamu menulis?' saya akan menjawab, 'satu demi satu kata'. - Stephen King
Matahari mulai menampakan sinarnya dari upuk timur, menembus celah dan ruang 9A. Kegiatan pembelajaran pun saya mulai dengan melantunkan kalam illahi. Wajah sumringah yang terukir pada diri siswa membuatku terus semangat untuk mendidik dan diskusi bersama. Di sudut ruang kelas 9A mulai tampak siswa yang aktif bertanya, hal tersebut menunjukan keseriusan untuk menggapai ilmu dan makna.
Semua siswa aktif berbagi peran dalam lingkup diskusi yang tengah disajikan. Pembelajaran pun mulai hangat dengan adanya tukar pendapat antar siswa untuk berbagi ilmu dan pengetahuan. Namun, bukan hanya sekadar pengetahuan yang disajikan dalam pembelajaran, kami sisipkan juga penguatan karakter yang berlandaskan Al Quran dan Hadis.
Di tengah riuhnya diskusi saat saling mengunjungi antar kelompok, terukir makna pembelajaran yang mereka dapatkan. Mereka saling berbagi informasi atau materi yang tengah disajikan. Saya melihat keceriaan dan keantusiasan mereka saat mengikuti pembelajaran.
Diskusi pun telah usai, mereka melajutkan pembelajaran dengan mulai mengerjakan penugasan. Seluruh siswa menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Namun, ada beberapa siswa yang merasa kesulitan untuk menuangkan ide dan gagasannya, dalam bentuk fonem menjadi sebuah kata, kata menjadi sebuah frasa, frasa menjadi sebuah klausa, kalusa menjadi sebuah kalimat, kalimat menjadi sebuah paragraf, dan paragraf mejadi sebuah wacana. Dalam pendekatan ini, saya mengajak siswa untuk "berwisata" melalui imajinasi. Saya meminta mereka membayangkan sebuah tempat yang indah atau memori yang berkesan dan menggambarkannya secara mendalam dalam bentuk teks deskripsi.
Saya ajak mereka memejamkan mata dan berimajinasi mengunjungi sebuah tempat yang indah. Kemudian saya lantunkan narasi, "Bayangkan kalian berada di tepi pantai yang tenang, mendengar suara ombak, merasakan angin, dan mencium aroma laut. Saya minta mereka membuka mata dan menuliskan apa yang mereka rasakan dalam bentuk kalimat. Goresan tinta pun dihasilkan oleh seluruh siswa kelas 9A, ide dan gagasannya mereka ukir dalam bentuk tulisan yang indah dan penuh makna. Tidak ada keraguan dalam diri mereka untuk menuangakan ide dan gagasan, lagi-lagi wajah sumringah terukir kembali memenuhi sudut ruang kelas 9A yang penuh riuh, canda, dan tawa. Wajah sumringah 9A terus menanti sangu yang diberikan dalam sebuah pembelajaran Bahasa Indonesia, tuk mengukir sebuah harapan..
Comments
Post a Comment