BAHAGIANYA UMAT KETIKA MENDAPAT SYAFA’AT
BAHAGIANYA UMAT KETIKA MENDAPAT SYAFA’AT
Oleh
( Saiful Anwar )
Kita bersyukur kepada Allah SWT, masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk senantiasa menjaga komitmen iman kita. Sebagian dari kita masih mudah terpancing dengan kemewahan dunia dan meninggalkan iman demi hawa nafsunya.
Setiap kita, sudah tentu mengharapkan kemudahan dalam kehidupan, baik aktivitas yang sedang kita jalani ataupun kemudahan- kemudahan dalam berumah tangga, pekerjaan, dan sebagainya. Namun, tidak mungkin kemudahan itu di dapatkan kecuali mendapat pertolongan dari Allah SWT. Puncaknya, kita sebagai orang beriman tentu ingin mendapatkan kemudahan tidak hanya di dunia, akan tetapi kemudahan dalam sakaratul maut, kemudahan di alam barzah, kemudahan di padang mahsyar, serta kemudahan di akhirat kelak.
Didalam Al qur’an, kemudahan yang Allah berikan di istilahkan dengan nama syafa’at.
Sebagaimana di dalam surah Az zumar : 44
Artinya ; katakanlah,” Syafaat (pertolongan) itu hanya milik Allah semuanya. Dia memiliki kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.”
Maka jika kita menginginkan kehidupan yang mudah dalam pekerjaan, keluarga, usaha dan sebagainya minta kepada Allah SWT. Sebagaimana setiap selesai sholat kita meminta kepada Allah SWT.
Sehingga, jangan pernah kita mengira letak kebahagiaan itu karena harta atau jabatan. Bukankah Qorun, Namrud, dan juga Fir’aun punya harta yang melimpah serta jabatan yang tinggi di masa itu. Namun tidak mendapatkan kebahagian sepenuhnya baik di dunia maupun di akhirat.
Lalu, bagaimana kita mendapatkan kebahagian dan jalan keselamatan?
Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita :
Abu Hurairah berkata , “Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia di hari kiamat?” Rasulullah SAW menjawab,” aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya. (HR Bukhari )
Pernah suatu hari di masa Rasullullah SAW datang sekelompok orang badui yang menyampaikan perihal keimanan kepada Rasul. Bahkan di abadikan pertanyaan itu didalam Al qur’an surah Al hujurat : 14
Artinya : Orang – orang arab badui berkata,” kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka),” kamu belum beriman, tetapi katakanlah,” kami telah tunduk (Islam),” karena iman belum masuk kedalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya, dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ayat ini menyatakan bahwa, Asyhadu alla ilaaha illallaah adalah kalimat iman, dan orang yang baru mengatakan syahadat itu adalah syarat syahnya masuk Islam. Maka jika seseorang betul-betul beriman, syaratnya adalah dari hati kemudian terucap lewat lisan dan tindakan yang di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari rangkaian ayat dan hadits diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap orang mukmin berkesempatan mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW. Dan belum tentu seorang muslim mendapatkan syafaat selama syahadatnya hanya di lisan.
Maka jika kita mengamati Al qur’an, tidak ada kata iman kecuali disandingkan dengan amal sholeh. Sebagaimana di dalam ayat yang menerangkan tentang puasa, sholat dan sebagainya.
Pertanyaanya, kenapa setiap kata iman disandingkan dengan amal sholeh? Karena amal sholeh itulah jawaban bagaimana seorang muslim yang syahadatnya sampai ke hati. Sehingga amalan yang dilakukan dengan iman itulah yang di sebut dengan “amal sholeh”. Dengan demikian, Allah perintahkan hamba-Nya untuk sholat, puasa, untuk mengecek kebenaran dari syahadatnya apakah hanya di lisan atau sudah sampai ke hati.
Allah sampaikan didalam Al qur’an bagaimana ciri-ciri orang beriman dalam surah Al anfal : 2 – 3 :
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (Qs. Al anfal:2)
Artinya : (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. (Qs. Al anfal :3)
Pada akhirnya, semua amalan dalam kehidupan seseorang yang telah beriman kepada Allah SWT akan berdampak dan menjadikan seseorang tersebut mendapatkan syafaat/pertolongan. Maka, kebahagiaan orang beriman tidak hanya bisa di rasakan di dunia, namun bisa dirasakan juga di akhirat kelak. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.
Comments
Post a Comment