SENI UNTUK BERDAMAI
Oleh : Asma Nur Azizah, S.Pd.
“Keadaanmu saat ini tidak menentukan ke mana kamu bisa pergi, mereka hanya menentukan dari mana kamu memulai”. — Nido Qubein
Suatu pagi, aku duduk termangu menatap anak-anak yang berlalu-lalang. Beragam ekspresi yang bisa aku tangkap dari wajah wajah polos mereka. Ada satu anak yang dengan percaya diri menceritakan pengalaman menariknya, lalu teman-teman disekitar nya menunjukkan reaksi yang beragam. Ada yang bersikap tenang dan menyimak sampai akhir. Ada yang memotong dan menimpali dengan pengalamannya yang serupa. Ada pula yang terlihat diam dan seakan tidak tertarik dengan hal yang terjadi disekitarnya. Keberagaman ini lah yang selalu membuatku tertarik untuk terus berkenalan dengan murid-muridku.
Keberagaman akan ekspresi diri yang ditampilkan murid-muridku membuat aku teringat akan masa remaja, saat aku seusia mereka. Aku mengingat dengan betul bagaimana emosi adalah salah satu hal yang menjadi sumber permasalahanku. Masa remaja yang penuh dengan gejolak emosi. Namun, aku kala itu masih tak paham bagaimana cara menghadapinya. Hari demi hari selalu berkontemplasi, bergelut dengan pikiran, perasaan, dan asumsi-asumsi dari aku yang hanya sebagai remaja tak terarah. Kala itu, banyak hal yang kulihat sebagai masalah besar dalam hidupku. Penerimaan akan keadaan diri menjadi hal tersulit yang aku lakukan. Seringkali bergumam “yaAllah, kenapa aku seperti ini? Kenapa aku tidak seberuntung temanku?”. Namun, diakhir masa remaja ku mulai sadari. Pada dasarnya segala hal yang terjadi dihidup tidak pernah lepas dari ketetapan terbaik Allah SWT. Hal yang pertama perlu aku lakukan adalah menerima. Menerima segala ketetapan yang Allah SWT berikan dalam hidupku.
Pengalaman semacam ini lah yang membuatku tertarik dengan emosi pada remaja. Menurut teori kepribadian, emosi merupakan suatu respon yang ada pada diri kita, dan diri ini tidak dapat dipisah-pisahkan antara fisik dan psikis. Hal yang terjadi pada diri kita akan memunculkan respon pada diri kita baik fisik maupun psikis. Maka, seringkali aku bertanya dalam hati ketika melihat ekspresi wajah muridku yang beragam “hal apa yang sedang dia hadapi ya hingga berekspresi seperti itu?”.
Sambil menyeruput segelas minuman rempah hangat yang menyamankan tubuh, mari kita kembali lagi dengan diriku. Aku adalah guru dengan mata pelajaran yang unik, karena tidak semua anak sudah memiliki pengalaman dengan mata pelajaran ini saat disekolah sebelumnya. Bimbingan konseling atau BK, begitulah mereka menyebutnya. Ketika aku memperkenalkan mata pelajaran ini kepada muridku, aku sampaikan bahwa dalam kegiatan pembelajaran ini kita akan berfokus untuk lebih berkenalan dengan diri sendiri. Respon tak biasa pasti akan muncul dari mereka setelah mendengar perkenalanku, karena berkenalan dengan diri bukan lah hal yang umum disampaikan untuk dilakukan bukan? Tapi setelah pembelajaran dimulai, mereka mulai paham. Ternyata ada banyak hal yang tidak mereka pahami dan ketahui dari diri mereka sendiri. Memulai berkenalan dengan memahami konsep diri dan keutuhan diri menjadi Langkah awal progress dari berdamai dengan diri sendiri.
“Bu, ternyata aku sering tidak mengumpulkan tugas karena orangtuaku tidak pernah memuji hasil pencapaianku. Aku merasa sia-sia dengan apa yang sudah aku lakukan karena tidak berhasil membuat orangtuaku bangga padaku” “Bu, ternyata aku seringkali merasa kecewa terhadap teman karena aku selalu berharap temanku memiliki kriteria seperti yang aku lihat di media sosial”
Proses berdamai dengan diri sendiri memang tidak semudah membuat mie instan. Perlu waktu yang cukup sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Namun, satu hal yang perlu kita semua ketahui bahwa kita semua berharga. Hal-hal baik yang terjadi dalam hidup kita, bukan terjadi hanya karena kita beruntung. Tetapi ada usaha dan ketetapan dari Allah didalamnya. Begitupun sebaliknya, hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, bukan terjadi karena kita adalah manusia yang gagal. Tapi karena Allah SWT mau kita meng-upgrade diri. Lagipula, Allah SWT sudah berjanji dalam firman nya pada surat al-Baqarah [2] ayat 286, bahwa “Allah SWT tidak akan membebani seseorang lebih dari kemampuannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.”
Kita adalah sebaik—baiknya makhluk yang telah Allah ciptakan dengan segala lebih dan kurangnya diri ini.
Comments
Post a Comment