Hikayat Baba Nisan: Di Antara Bau Sampah dan Harum Ilmu
Di sebuah kampung kecil bersuku Betawi, tinggal seorang lelaki renta bernama Baba Nisan. Usianya mungkin sudah lebih dari separuh abad. Kulitnya legam terbakar matahari, punggungnya membungkuk membawa beban hidup. Setiap pagi, saat matahari baru mengintip dari ufuk timur, suara dentingan lonceng gerobaknya menggema di sudut-sudut kampung. Baba Nisan, tukang sampah keliling, berjalan menyusuri lorong sempit, mengumpulkan apa saja yang tak lagi dipandang orang: kaleng bekas, plastik robek, dan kertas lusuh.
Namun, di balik bau sampah itu, tersimpan sebuah impian besar.
"Ba, kenapa Baba tiap hari capek ngangkut sampah?" tanya Salim, anak semata wayangnya, saat masih kecil.
Baba Nisan tersenyum. Senyum itu lelah, tapi tulus. "Biar Salim bisa sekolah tinggi. Biar kelak Salim jadi guru. Guru itu harum ilmunya, Nak. Bukan soal pekerjaan Baba yang bau ini."
Hari berganti. Tahun berlari. Salim tumbuh menjadi pemuda cerdas. Setiap malam, Baba Nisan duduk di depan rumahnya yang sederhana, memandang bintang, sambil mendendangkan pelan lagu Ebiet G. Ade, "Titip Rindu Buat Ayah". Suaranya serak, tapi ada doa yang mengudara bersama lirik itu.
Ayah, dalam hening sepi kurindu... Ayah, dalam gelap malam ku bersujud...
"Baba titip rindu pada masa depanmu, Nak. Teruslah belajar," gumamnya.
Dengan hasil memungut sampah, sedikit demi sedikit Baba Nisan menyekolahkan Salim. Ketika orang bertanya, "Baba, kenapa tidak suruh anak Abang kerja saja?"
Baba Nisan hanya tersenyum. "Sampah ini buat biaya sekolah Salim. Ilmu dia kelak lebih mahal dari emas."
Dan benar. Bertahun-tahun kemudian, Salim pulang dengan toga di tangan dan gelar sarjana di dada. Ia tidak memilih pergi ke kota, meski tawaran datang silih berganti. Salim memilih tinggal. Mengajar anak-anak kampung. Menjadi guru mengaji di surau kecil. Menyemai ilmu di tanah kelahirannya.
"Kenapa Salim nggak cari kerja di kota, Nak?" tanya seorang kerabat.
Salim hanya tersenyum, senyum yang mirip Baba Nisan. "Karena harum ilmu itu seharusnya menyebar di sini. Di kampung ini. Di mana Baba dulu memungut sampah demi masa depan saya."
Baba Nisan kini duduk di beranda, rambutnya memutih, tubuhnya tak lagi kuat mendorong gerobak. Tapi matanya berbinar. Bau sampah masa lalu telah berubah menjadi harum ilmu di masa kini.
Ia memandang ke surau, melihat anak-anak mengaji dipimpin oleh Salim. Hatinya penuh syukur. Di antara bau sampah yang pernah mengiringi langkahnya, kini tercium harum ilmu yang bermanfaat untuk ummat.
Sungguh, kisah Baba Nisan adalah bukti: bahwa kemuliaan tak ditentukan oleh pekerjaan yang tampak di mata, tetapi oleh impian yang diperjuangkan dan manfaat yang diberikan. Seperti syair Ebiet G. Ade yang selalu ia lantunkan:
Ayah... dalam hening malam aku bersujud... Tuk memohon doa suci untukmu, Ayah.
Dan di sanubari Salim, doa itu terus bergema. Untuk Baba Nisan. Ayah yang mengubah bau sampah menjadi harum ilmu, untuk umat, untuk dunia.
Masyaa Allah, kisa yang sangat menginspirasi. Sebuah perjalanan hidup yang pebuh dengan hikmah. Terima kasih kisahnya Pak Mansur. Semoga berkah selalu ilmunya. Aamiin
ReplyDelete