Review Buku Perang Mu'tah
PERANG MU’TAH
Oleh: Syarif Hidayat
Latar Belakang Perang Mu’tah
Imam Ibnu al-Qayyim berkata, "Mu'tah adalah nama daerah di dataran rendah Balqa di Negeri Syam. Perang ini terjadi pada bulan Jumadal Ula tahun kedelapan Hijriah. Perang ini terjadi karena suatu harĂ Rasulullah saw. mengutus al-Harits bin Umair al-Azadi, salah seorang anggota BanĂ Lahab untuk mengirimkan surat beliau ke Syam, yaitu kepada Raja Romawi atau Gubernur Bushra. Namun, sang gubernur malah menyuruh Syarhabil bin Amr al-Ghassani untuk mencegat dan menangkapnya. Setelah menangkap utusan Rasulullah saw. tersebut, Syarhabil mengikatnya dan membawanya ke hadapan gubernur. Di hadapan gubernur, utusan itu dipenggal lehernya.
Sebelumnya tak pernah ada utusan Rasulullah yang dibunuh. Tindakan membunuh para utusan dan duta merupakan kejahatan terberat, sama saja dengan mengultimatum perang. Ketika Rasulullah saw. mendengar berita itu, beliau amat murka. Oleh karena itu, beliau segera menyiapkan pasukannya yang berjumlah tiga ribu orang. Pasukan Islam terbesar di masa itu yang sebelumnya tidak pernah mencapai jumlah tersebut, kecuali pada masa Perang Khandaq.
Siapakah Pemimmpin Pasukan pada perang Mu’tah…?
Pada Perang Mu’tah, Rasulullah saw. memgangkat Zaid bin Haritsah sebagai pemimpinnya. Rasulullah saw. berpesan, “Jika Zaid gugur, ia digantikan oleh Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far gugur, ia digantikan oleh Abdullah bin Rawahah,”
Berapa Jumlah Pasukan Perang Mu’tah…?
Pasukan Muslim berjumlah 3.000 orang, mereka berani menghadapi pasukan Bizantium yang diperkirakan berjumlah 100.000 hingga 200.000 orang. Beginilah Pengaruh dan Buah dari Keimanan. Hal yang paling menakjubkan dan mengagumkan di perang itu adalah perbandingan jumlah pasukan yang begitu besar antara kaum muslimin dan musuh yang terdiri atas gabungan pasukan Romawi dan kaum musyrikin Arab. Seperti Anda lihat bahwa total jumlah pasukan musuh gabungan antara Arab musyrik dan bangsa Romawi mencapai kurang lebih 200 ribu orang, sementara pasukan muslimin tidak lebih dari 3.000 orang. Itu berarti bahwa jumlah pasukan musuh mencapai lebih dari lima puluh kali lipat pasukan muslimin. Itu adalah jumlah yang jika Anda bayangkan amat jauh tidak seimbang. Jika kita bayangkan jumlah kaum muslimin yang dikepung oleh pasukan musuh, seumpama bejana air kecil di tengah lautan luas. Belum lagi peralatan dan persenjataan musuh yang jauh lebih canggih disbanding dengan yang dimiliki kaum muslim yang jumlahnya sedikit dan tidak memiliki apa-apa.
Jalannya Pertempuran
Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Zaid Bin Haritsah menghadapi pasukan Bizantium dengan jumlah yang lebih besar. Dalam pertempuran yang sangat sengit Zaid Bin Haritsah, Ja’far Bin Abi Thalib dan Abdullah Bin Rawahah gugur sebagai syuhada yang kemudian digantikan oleh Khalid Bin Walid dan berhasil menyusun strategi yang brilian. Khalid berhasil bertahan melawan pasukan Romawi sepanjang siang hari adalah bagaimana kaum muslimin mundur tanpa dikejar oleh orang-orang sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. la merasa perlu menyusun pertama pertempuran. la sadar sangatlah tidak mungkin menandingi pasukan strategi perang yang bertujuan menebarkan rasa takut ke diri musuh. Tujuannya Romawi. Sebab, ia sadar betul bahwa melepaskan diri dari kepungan pasukan Romawi amat sulit.
Di hari kedua pertempuran, Khalid menyusun strategi. Ia pun mempersiapkan pasukannya dan mengubah-ubah formasi barisannya. Pasukan di barisan depan ditukar dengan yang di belakang, sedangkan yang di belakang dialihkan ke depan. Pasukan sayap kanan berganti ke posisi kiri, begitu pun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan Romawi mengira bahwa pasukan muslimin telah mendapatkan bantuan tambahan pasukan baru.
Setelah pasukan bertempur beberapa jam, kaum muslimin mundur sedikit demi sedikit dengan tetap menjaga formasi barisannya. Kaum Romawi tidak mau mengikuti mereka karena mengira bahwa kaum muslimin tengah membuat tipu muslihat dan tipuan yang bisa membuat mereka terjebak di tengah padang pasir. Demikianlah, akhirnya musuh pun mundur ke daerahnya sendliri. Mereka tidak memutuskan untuk mengejar kaum muslimin. Dengan begitu, kaum muslimin pun berhasil mundur dalam keadaan selamat dan kembali ke Kota Madinah.
Pelajaran yang dapat Dipetik
Perang Mu'tah mengajarkan pentingnya keberanian, semangat juang, dan strategi dalam menghadapi tantangan.
Meskipun jumlah pasukan Muslim lebih kecil, mereka mampu memberikan perlawanan yang berarti berkat semangat dan strategi yang tepat.
Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa kekalahan dalam pertempuran fisik tidak selalu berarti kekalahan secara moral dan strategis.
Perang Mu'tah menjadi salah satu tonggak penting dalam penyebaran Islam dan penaklukan wilayah-wilayah baru.
Comments
Post a Comment