Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah
Tahapan Mendidik Anak
Teladan Rasulullah
Oleh: Muhammad Iqbal Rahadian, S.Psi
Identitas Buku
Judul : Tahapan Mendidik Anak ~ Teladan Rasulullah
Judul asli : Athfaalul Muslimin, Kaifa Rabbaahumun, Nabiyyul Amiin.
Penulis : Jamaal Abdur Rahman
Penerjemah : Bahrun Abubakar Ihsan Zubaidi Lc
Editor : Ir. Sumbodo & Eni Oesman, BA.
Penerbit : Irsyad Baitus Salam (IBS)
Penerbit asal : Daaruth Thaibah Al-Khadhra, Makkaatul Mukaromah, KSA
Tahun Penerbit : 2005 (cetakan pertama)
Tebal Halaman : 352 Halaman
Pendahuluan
Sesungguhnya masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur, paling panjang dan paling dominan bagi seorang murabbi (pendidik) untuk menanamkan norma-norma yang mapan dan arahan yang bersih ke dalam jiwa dan sepak terjang anak-anak didiknya. Berbagai kesempatan terbuka lebar untuk sang murabbi dan semua potensi tersedia secara berlimpah dalam fase ini dengan adanya fitrah yang bersih, masa kanak-kanak yang masih lugu, kepolosan yang begitu jenih.
Apabila masa ini dapat dimanfaatkan oleh seorang murabbi secara maksimal dengan sebaik-baiknya, tentu harapan yang besar untuk berhasil akan mudah diraih pada masa mendatang, sehingga kelak sang anak akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang tahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan, beriman, kuat, kokoh dan tegar.
Mendidik anak dan mengajar anak bukan merupakan hal yang mudah, bukan pekerjaan yang dapat dilakukan secara serampangan dan bukan pula hal yang bersifat sampingan. Mendidik dan mengajar anak sama kedudukannya dengan kebutuhan pokok dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim yang mengaku dirinya memeluk agama yang hanif ini.
Dengan demikian, berarti tugas mengajar, mendidik dan memberikan tuntunan sama artinya dengan upaya untuk meraih surga. Sebaliknya, menelantarkan hal tersebut berarti sama dengan menjerumuskan diri ke dalam neraka. Jadi, kita tidak boleh melalaikan tugas ini, terlebih lagi Nabi telah bersabda :
“ Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan baik”
(Hadits diketengahkan oleh Ibnu Majah 2/1211)
ISI
Pasal Satu
Anak semenjak di dalam sulbi bapaknya hingga menginjak usia 3 tahun. Di pasal ini akan membahas tentang doa untuk anak agar beroleh hidayah sejak di sulbi ayahnya, doa untuk anak ketika masih berupa nuthfah, dzikir untuk keselamatan bayi yang akan dilahirkan, kedudukan bayi yang keguguran di sisi Allah, anjuran menyerukan adzan pada telinga kanannya dan lain-lain. Di Pasal satu ini kita akan diajarkan cara mendidik anak hingga mereka usia 3 tahun sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.
Pasal Dua
Disini anak mulai memasuki usia 4 tahun hingga 10 tahun. Di pasal ini, peran murabbi lebih fokus mendidik anak untuk mempersiapkan ke tahap remaja. Disini murobbi akan mengajarkan cara menarik hati anak dengan ungkapan lembut, membimbing anak kepada akhlaq mulia, memberikan pengarahan dan kekeliruan anak saat makan, memperlakukan anak dengan adil, memberi semangat dengan hadiah, mengajari anak tentang adab saat memasuki waktu magrib.
Pasal Tiga
Tahap ini akan membahas usia anak dari 10 tahun hingga 14 tahun. Dalam rentan usia ini anak akan diajarkan beberapa hal yaitu mulai memisahkan anak di tempat tidur masing-masing, menjaga dan menundukkan pandangan serta memelihara aurat, tidak memanjakan anak semua kemauannya, cara bergaul dengan teman sesuai ajaran Islam.
Pasal 4
Pembahasan ini akan menjelaskan cara mendidik anak di usia 15 tahun hingga 18 tahun. Pada usia ini, anak akan lebih ditekankan tentang ilmu agama Islam yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Mulai memperkuat untu menanamkan kecintaannya kepada Nabi, keluarganya, sahabatnya serta kecintaan dalam membaca Al-quran. Mengajarkan untuk berbakti kepada orang tua, memerintahkan anak perempuan untuk memakai jilbab saat baligh.
Kesimpulan
Tidaklah berlebihan bila kami mengatakan bahwa dunia sekarang sangat membutuhkan sistem pendidikan yang islami yaitu sistem pendidikan yang mengacu pada norma-norma idealisme, kerohanian, akhlaq, dan agama agar kita belajar hanyalah untuk ilmu semata dan meraih kesenangan berilmu serta terhindar dari kerusakan, kejahatan, kerendahan, kerakusan, ketamakan, penjajahan,peperangan dan bencana-bencana yang diakibatkan olehnya.
Comments
Post a Comment