Refleksi 80 tahun merdeka


 


Refleksi 80 tahun merdeka 


Euforia kemerdekaan menebak di mana-mana. Rakyat dengan dana hasil iuran mengadakan lomba-lomba untuk memperingati kemerdekaan RI yang tahun ini berusia 80 tahun. Kebahagiaan terpancar dari wajah anak-anak yang mengikuti lomba dan juga panitia yang mengatur jalannya perlombaan. Berbagai macam lomba dan peringatan diadakan seperti panggung gembira, karnaval, dan kegiatan lainnya intinya mereka merayakan kebahagiaan atas karunia kemerdekaan yang diberikan Allah SWT kepada bangsa ini. 


Dibalik euforia perayaan kemerdekaan itu terbesit  sedikit pertanyaan di sudut hati saya.


Apakah memang bangsa ini sudah merdeka? 

Apakah belenggu penjajahan yang selama ratusan tahun diderita oleh bangsa ini sudah hilang? 

Benarkah kemerdekaannya hakiki sudah kita rasakan? 


Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini lalu muncul ingatan saya ketika saya berselancar di dunia maya di media sosial yang bernama IG. Di IG berseliweran video-video yang mempertontonkan para anggota DPR yang sedang berjoget-joget di sidang tahunan MPR. Mereka lupa, bahwa di luar sana masih banyak rakyat Indonesia yang tidak bekerja alias menganggur? Mereka lupa bahwa di luar gedung DPR itu ada di dua orang anak jalanan yang sedang mengais-ngais makanan di tong sampah dekat gedung anggota dewan. 

Atau mereka memang sengaja dilupakan. 

Mereka bukan bagian penting dari euforia kemerdekaan ini.

Selain itu, di media sosial IG ini juga berseliweran berita tentang kenaikan gaji anggota DPR menjadi 100 juta perbulan. 

Ini sangat kontradiktif dengan situasi sekarang yang menurut bapak Prabowo bangsa ini harus mengadakan efisiensi di segala lini. 

Yang terjadi adalah kenaikan gaji anggota DPR dan fasilitas lain untuk mereka. 


Penulis melihat situasi ini sangat berbahaya bagi keutuhan keadilan di NKRI yang kita sama-sama cintai. Seharusnya pemerintah, dalam hal ini anggota dewan, peka terhadap situasi yang terjadi di luar sana. Gaji dan fasilitas yang besar jangan sampai meniina bobokan mereka hingga mereka lupa akan tugas mereka sebagai wakil rakyat di parlemen. Presiden Prabowo juga seharusnya dalam melihat situasi seperti ini mengambil tindakan atau bahkan aturan yang membatasi keriaan para anggota dewan di saat rakyat masih banyak yang menderita.

Mengurangi flexing dan joget-joget adalah langkah yang sangat bijak bagi anggota dewan. Utamakan membuat rakyat nyaman dan merasa bahwa aspirasi mereka terwakili di gedung parlemen. 

Semoga tulisan ini dapat mengunggah kita semua bahwa sesungguhnya kemerdekaan yang paling hakiki yang harus dimiliki oleh setiap warga negara ini adalah hidup dengan rasa nyaman tanpa adanya perasaan dikucilkan dan diremehkan. Kita butuh pengakuan, kebanggaan, dan kenyamanan hidup di Indonesia. 



25 Agustus 2025



Comments